Langsung ke konten utama

MANFAAT CANGKANG TELUR AYAM SEBAGAI MEDIA TANAM



Sampah masih menjadi masalah krusial di negara kita. Oleh karenanya, sebagai warga negara yang baik, kita memiliki peranan untuk menjaga bumi dari gunungan sampah yang bisa mengancam kelangsungan ekosistemnya. Sebagai bentuk langkah meminimalisir sampah berserakan di rumah, saya bersama kakak perempuan saya mengolah sampah sebagai media tanam yang berdaya guna tinggi dan memiliki manfaat jangka panjang. 


Salah satunya dengan memanfaatkan sampah cangkang telur ayam untuk dijadikan sebagai media pembibitan tanaman bawang putih dan cabe merah. Seperti nampak pada foto, terdapat 16 buah cangkang telur  ayam yang sudah dijadikan media tanam. Adapun hal tersebut kami lakukan bukan tanpa alasan, mengingat bahwa cangkang telur ayam mengandung kalsium karbonat yang juga bisa berfungsi sebagai pupuk tanaman.


Bila ketinggian tanaman sudah merampas ruang gerak di cangkang telur, maka tanaman tersebut siap untuk dipindahkan ke media tanam yang lebih lebar, yakni pot bunga. Namun jangan khawatir dengan sampah cangkang telur ayam di media tanam sebelumnya, karena masih bisa diolah kembali untuk dijadikan pupuk. Yakni dengan cara menghancurkan cangkang-cangkang telur ayam tersebut dan mencampurkannya dengan bahan lain seperti ampas kopi. And voila jadilah pupuk yang berfungsi memberikan nutrisi bagi tanaman dan membantu mengurangi keasaman tanah. Mudah bukan? Sampah terminimalisir, tanaman di rumah juga menjadi lebih sehat dan sarat akan nutrisi yang baik. 


(Malang, 19 Juni 2021)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJAUH MANA KITA LIBATKAN ALLAH DALAM HIDUP KITA?

(Sumber foto : IG @ninih.muthmainnah) Masih terekam jelas dalam ingatan, peristiwa ketika si kecil tetiba terjatuh lantas mengalami kejang hingga tak sadarkan diri. Detik kala itu berlalu sangat cepat, bak sebuah adegan film dengan sekali aba-aba take action tanpa cut dari sang sutradara. Menutup lembaran tahun dalam nuansa yang jauh dari kata indah. Melewati puncak tantrum si kecil di sebuah rumah sakit. Bersamaan dengan pekik suara terompet membelah hening malam, pertanda tahun 2021 telah berlalu dan berganti dengan ucapan selamat datang tahun 2022. Serupa antitesis dalam sebuah fragmen kejadian yang harus dilewati secara bersamaan sekaligus. Satu hal yang membekas dari peristiwa di penghujung tahun lalu, ketika tak satupun jalan keluar kutemui, ternyata hanya di pintuNya-lah tak pernah kutemui jalan buntu. Aku merajuk mengulang pinta dan doa. Sembari menegakkan ikhtiar secara maksimal, kunikmati waktu melambungkan bait-bait doa dalam kepasrahan yang paripurna. Bahwa permata jiwaku...

RUMAHKU : TAK SEKADAR RUANG BERTUMBUH BERSAMA, TETAPI JUGA MEDAN MAGNET TERKUAT UNTUK KEMBALI PULANG

  Sesungguhnya, kita telah lama jadi penghuni "waktu", sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar "ruang transit". Demikian saya meminjam kutipan dalam buku karya Avianty Armand yang bertajuk "Arsitektur yang Lain : Sebuah Kritik Arsitektur". Salah satunya tentang makna rumah yang telah mengalami pergeseran nilai dan arti dari waktu ke waktu. Konsep rumah sebagai sebuah hunian yang kehilangan batas definitifnya sehingga berubah menjadi sangat elastis. Orang-orang dalam hiruk pikuk modernitas yang betah berlama-lama duduk di kafe yang berinternet, mencuri-curi waktu memejamkan mata di sela perjalanan pulang dan pergi ke kantor, bertemu sejumlah relasi di lobi hotel berbintang hingga menghabiskan makan malam bersama keluarga di restoran-restoran silih berganti. Orang-orang itu adalah kita, tak terkecuali saya. Masihkah semangkuk rindu mengepul hangat di setiap sudut ruangannya? Atau jangan-jangan dinginnya sudah menembus batas empati sang pemilik?  Bagi ...

DUNIA LITERASI BACA-TULIS, SUMUR ILMU YANG TAK PERNAH KERING DIGALI MANFAATNYA

(Desain foto : by. Canva) Dunia literasi selalu menawarkan candu bagi para pecintanya. Pun begitu dengan apa yang saya rasakan. Bak sekalinya tenggelam, maka seketika saya tak ingin bergegas mengapung kembali ke permukaan. Banyak hal menarik untuk dikulik ketika semakin hari diri terperosok masuk menjelajah belantara literasi. Dalam keterbatasan ilmu yang saya miliki, apa yang saya yakini dalam cakrawala pandangan saya selama ini seketika bisa terbantahkan oleh fakta dan data yang tersaji di lapangan. Salah satunya ketika salah seorang pegiat literasi, kang Maman Suherman menyampaikan bahwa ternyata bukanlah minat baca rendah yang selama ini menjadi gaung persoalan di tanah air, melainkan soal akses antara manusia dengan buku yang berjarak. Di Jakarta banyak orang menumpuk buku, sementara nun jauh di pelosok Papua, Kalimantan dan beberapa titik daerah terluas di Indonesia justru mengalami situasi susah untuk mengakses kehadiran buku. Berkaca dari hal tersebut, kang Maman, demikian beli...