Langsung ke konten utama

Postingan

AKU, KITA dan LANGKAH NYATA HAPUSKAN POTRET BURAM PETANI NUSANTARA

  (Sumber foto : hipwee.com) Mau makan buah jeruk Bali  Bukan berarti harus ke Bali Cukup ada di sini  Dekat kita sendiri Kita tinggal menikmati Hei Indonesiaku Tanah subur rakyat makmur Hei Indonesiaku Aku sayang kepadamu Tanam salak tumbuh salak Tanam duren tumbuh duren Tanam padi tumbuh padi Adakah sahabat SOBITS yang masih ingat penggalan lirik lagu di atas? Sejujurnya lagu berjudul "Semua Ada Disini" yang dipopulerkan oleh Enno Lerian pada pertengahan tahun '90an itu masih sangat familiar di telinga saya. Betapa tidak, bagi generasi yang bertumbuh dan menghabiskan masa kecilnya di era tersebut, lagu anak-anak selalu menjadi lagu favorit karena selalu wara wiri tampil di layar kaca televisi. Tak terkecuali dengan lagu "Semua Ada Disini". Namun siapa sangka, bila ditelisik lebih jauh, lagu tersebut memiliki makna yang mendalam lho . Salah satunya sebagai self reminder bagi kita untuk selalu bangga dengan produk Indonesia. Tak terkecuali dengan produk panga...

KILOMETER PERTAMA

Perjalanan rasa hari ini tak hanya bertutur tentang seberapa jauh langkah kaki mengayun. Lebih dari itu, setiap jengkalnya juga bercerita tentang pelajaran menukil butiran hikmah. Bahwa setiap langkah yang terjejak tak hanya menyisakan tapak-tapak basah layaknya pijakan kaki di atas rumput pagi. Melainkan ada tanggung jawab sang pemilik kaki, kemana saja langkah kakinya diayunkan. Ada tempat yang dituju, ada sepotong kenangan yang tertinggal. Sesekali terdengar bisingnya riuh berjelaga di sudut hati, pada tiap-tiap tempat yang membawa rindu pada seseorang yang kini berada dalam dimensi abadi. Langkah terayun kembali. Melintasi barisan pepohonan, pada pucuk-pucuknya menjadi tempat bernaung kawanan burung. Mereka kepakkan sayapnya setinggi angkasa kala pagi buta, untuk kemudian berpulang kembali ke sarangnya kala senja bergegas memeluk bumi dalam nuansa gulita. Sejenak kuhentikan langkah. Bukan untuk melepas penat yang menjalar di saraf-saraf kaki, melainkan untuk mengabadikan momen dari...

SEJAUH MANA KITA LIBATKAN ALLAH DALAM HIDUP KITA?

(Sumber foto : IG @ninih.muthmainnah) Masih terekam jelas dalam ingatan, peristiwa ketika si kecil tetiba terjatuh lantas mengalami kejang hingga tak sadarkan diri. Detik kala itu berlalu sangat cepat, bak sebuah adegan film dengan sekali aba-aba take action tanpa cut dari sang sutradara. Menutup lembaran tahun dalam nuansa yang jauh dari kata indah. Melewati puncak tantrum si kecil di sebuah rumah sakit. Bersamaan dengan pekik suara terompet membelah hening malam, pertanda tahun 2021 telah berlalu dan berganti dengan ucapan selamat datang tahun 2022. Serupa antitesis dalam sebuah fragmen kejadian yang harus dilewati secara bersamaan sekaligus. Satu hal yang membekas dari peristiwa di penghujung tahun lalu, ketika tak satupun jalan keluar kutemui, ternyata hanya di pintuNya-lah tak pernah kutemui jalan buntu. Aku merajuk mengulang pinta dan doa. Sembari menegakkan ikhtiar secara maksimal, kunikmati waktu melambungkan bait-bait doa dalam kepasrahan yang paripurna. Bahwa permata jiwaku...

METAMORFOSA MIMPI

(Sumber foto : pixabay) 🍁 DESEMBER 2003 Tetiba rasa ini ada. Mulanya sebiji saja. Sejuta sayang, terlambat kusadari hingga tunasnya berkecambah penuh di dasar hati. Geletarnya terasa bahkan hingga hampir seribu malam sejak detik ini. Aku terjatuh lantas menaruh rasa. Tak ada lagi awan yang mengabu, sebab semua hariku seketika berwarna biru. Sesederhana itu geletar rasa, bisa merubah mimpi buruk menjadi sebuah asa. Bila kalian tanya apa dan bagaimana mimpiku, dengan lantang akan kujawab : DIA ❤. 🍁  FEBRUARI 2006 (Sumber foto : pixabay) Sayonara kuucapkan pada kisah lama. Bak plot twist roman picisan. Hari ini mimpiku sedikit bergeser ke dalam bentuk ekspektasi. Membahagiakan yang terkasih dengan penghidupan yang lebih baik. Iya, senyuman ibunda layak menjadi juara. Kukejar mimpi seperti mengejar bayanganku sendiri. Tak mengapa. Selagi aku terus berusaha menghunjamkan 'akar'nya hingga menembus jauh ke dalam tanah, bukankah sah saja bila aku memiliki mimpi yang menjulang tinggi...

SURGA ITU BERNAMA IBU

(Credit by. Canva) Adakah yang lebih surga selain tenggelam dalam pelukan puan itu kala lelah menghamba diri kala pongah dunia menghunus hati Adakah yang lebih surga selain kasih tak berbalas tuba selalu tulus membuncah meski sejuta alpa meraja dari lisan sang permata jiwa Pun adakah yang lebih surga selain rapal doa tak berjeda tergumam khusyuk di atas lembar sajadah melangit mengetuk pintu ArsyNya semua serba rahasia Tuhan sajalah saksi lebih dari sekuntum doa mewangi terijabah menembus lapis-lapis udara Ialah ibuku yang menghidupkan jantung rumah kala surya masih meringkuk di peraduan kala tetes embun masih fatamorgana Ialah ibuku tak pernah jujur tentang luka membungkusnya rapi ke dalam simpul-simpul tawa menawarkan candunya lantas berkata : "Semua akan baik-baik saja" Aku bersurat kepada Tuhan semoga berkah usia puanku dengan bahagia paripurna dengan jalan surga yang tak terjal untuk dilalui Hingga masih di sini aku bertajuk sama sebagai seorang ibu namun aku tetap saja ...

SURAT CINTA untuk IBU

(Desain Foto : by. Canva) Dear Ibu, terima kasih telah membersamaiku dan saudara-saudaraku hingga detik ini dan tegar bertahan dalam keadaan yang tak selalu baik dalam pandangan kita. Tak mengapa kan Bu, bukankah kehidupan dunia tak selalu menawarkan semburat indah warna pelangi yg memanjakan mata? Helaian rambut memutih memenuhi kepala seiring semakin berkurangnya daya penglihatan dan ingatan ibu, membawa rasa malu ini semakin merajai hati kala bertafakur dalam sepi untuk setiap kekurangan kami dalam membersamai masa senja ibu. Karena bahkan hingga detik ini, ibu selalu saja menjadi tempat berpulang kala dunia kejam memperlakukan kami. Kami tenggelam dalam pelukan yg menenangkan untuk kemudian hidup kembali pendar semangat kami yg sebelumnya beranjak redup padam. Ibu yang tak pernah jujur untuk seribu luka dalam hati, yang selalu berkata cukup untuk kebahagiaan yang belum sepenuhnya kami hidangkan. Ibu memang bukan guru dalam arti harfiah. Namun bagi kami, ibu tak ubahnya definisi sal...

DUNIA LITERASI BACA-TULIS, SUMUR ILMU YANG TAK PERNAH KERING DIGALI MANFAATNYA

(Desain foto : by. Canva) Dunia literasi selalu menawarkan candu bagi para pecintanya. Pun begitu dengan apa yang saya rasakan. Bak sekalinya tenggelam, maka seketika saya tak ingin bergegas mengapung kembali ke permukaan. Banyak hal menarik untuk dikulik ketika semakin hari diri terperosok masuk menjelajah belantara literasi. Dalam keterbatasan ilmu yang saya miliki, apa yang saya yakini dalam cakrawala pandangan saya selama ini seketika bisa terbantahkan oleh fakta dan data yang tersaji di lapangan. Salah satunya ketika salah seorang pegiat literasi, kang Maman Suherman menyampaikan bahwa ternyata bukanlah minat baca rendah yang selama ini menjadi gaung persoalan di tanah air, melainkan soal akses antara manusia dengan buku yang berjarak. Di Jakarta banyak orang menumpuk buku, sementara nun jauh di pelosok Papua, Kalimantan dan beberapa titik daerah terluas di Indonesia justru mengalami situasi susah untuk mengakses kehadiran buku. Berkaca dari hal tersebut, kang Maman, demikian beli...